| Judul : Nabi Muhammad s.a.w Penulis : ‘Abdullah ‘Aidid Penerbit : Bulan Bintang Jakarta Cetakan : III/ 1961 Tebal : 337 halaman Buku ini mengungkap kisah perjalanan hidup seorang Nabi Muhammad, mulai dari sejarah peradaban Djazirah Arab, masa-masa sebelum kelahiran Nabi Muhammad, ketika beliau lahir, masa-masa kecil, masa-masa kenabian, peperangan-peperangan yang dilewati sampai wafatnya beliau yang kemudian diteruskan oleh para sahabatnya. Dijelaskan dalam buku ini, Djazirah Arab ialah sebuah Tanah Penanjung terletak di bagian Barat Daya Benua Asia. Tanah ini terkenal dengan nama Djazirah Arab atau Pulau Arab, walaupun masih bertali dengan daratan Benua Asia, karena ia dilingkungi oleh lautan dari tiga seginya ; yaitu Lautan Merah, Lautan Hindia, Lautan ‘Omman dan Selat Persia. Sebenarnya lebih tepat kalau ia dinamakan Tanah Penanjung Arab, bukan Djazirah Arab atau Pulau Arab. Djazirah Arab terbagi lima bagian besar, yaitu Tihamah, Hidjaz, Nadjd, Jaman, dan ‘Arudl. Kehidupan sebelum Nabi dilahirkan semua berpusat pada daerah yang memiliki pasar dan daerah yang subur, perekonomian dan sosial kebanyakan dimulai dari sini. Namun disisi lain orang-orang arab ini sangat gemar minum arak dan main judi. Salah satu adat mereka yang sangat rendah adalah menguburkan anak perempuan hidup-hidup. Perbuatan yang kejam dan biadab ini biasanya dilakukan karena takut mendapat malu atau miskin. Diantara adat mereka yang rendah juga tercermin dari kebiasaan lekaki menikah seberapa sukanya dan menceraikan isterinya semau-maunya pula. Perempuan janda yang ditinggal mati suaminya, dipandang sebagai barang warisan. Sehingga seringkali terjadi hubungan perkawinan antara anak da isteri ayahnya atau ibu-tirinya. Nabi Muhammad dilahirkan malam Isnen 12 Rabi’ulawal tahun Fiel bertepatan dengan 20 Agustus tahun 570 Masehi di kota Mekkah. Ayahnya bernama Abdullah bin ‘Abdulmuthalib bin Hajsim, satu keluarga yang sangat besar dan berpengaruh, bukan saja di kota Mekkah, tetapi juga di seluruh Djazirah Arab. Karena itupula yang menyebabkan mereka diberi kehormatan untuk mengurus Baitullah Alharam, turun menurun, serta menerima dan melayani pengunjung-pengunjung Rumah Suci itu. Ibunya Siti Aminah binti Wahab bin ‘Abdulmanaf bin Zuhrah, juga satu keluarga bangsawan yang sangat terhormat di kalangan kabilah-kabilah Arab umumnya. Setelah Muhammad lahir, sesuai dengan adat kebiasaan kaum bangsawan Mekkah pada zaman jahiliyah, ialah menyerahkan anaknya diasuh dan disusukan oleh perempuan badwi yang berdiam di Badiah, biasanya selama 7 atau 8 tahun, maksudnya adalah agar perawakan anak dapat tumbuh dengan segar dan sehat serta terhindar dari pergaulan dengan orang-orang asing yang bahasanya sudah rusak dan agar sang anak dapat pula mempelajari tutur bahasa yang baik, bahasa Arab sejati, yang masih bersih dan supaya fasih lidah lidahnya. Untuk menunggu pengasuh dari luar kota, beliau di susukan oleh Tsuwaibah, sahaya pamannya, Abi Lahab. Perempuan pertama yang menyusui nabi adalah Tsuwaibah, kemudian diasuh oleh Halimah binti Abi Zuwaib dai kabilah Bani Sa’id. Ketika beliau berumur 6 tahun, Ibunya Siti Aminah meninggal dunia ketika pulang setelah menziarahi kuburan ayahnya bersama Nabi. Kemudian beliau diasuh oleh datuknya, ‘Abdulmutthalib, yang telah berumur mendekati 80 tahun, sebagai penghormatan bagi kedudukannya, tidak ada yang berani menduduki hamparan tempat duduknya, terkecuali Nabi Muhammad, diriwayatkan ketika itu, Nabi mendekati hamparan tersebut kemudian dihalangi oleh paman-pamannya, namun ‘Abdulmutthalib menyuruh mereka membiarkan cucunya untuk dating mendekati beliau. Kemudian tak lama kemudian, kakek beliau, turut juga meninggal dunia, dan beliau langsung diasuh oleh pamannya, ‘Abu Thalib. Pada masa kecil hingga dewasa, beliau terkenal dengan akhlak yang luhur, sopan dan dapat dipercaya oleh orang-orang. Suatu ketika beliau mengenal seorang perempuan yang telah berumur kira-kira 35 tahun melalui usaha niaga, perempuan tersebut bernama Siti Chadijah. Beberapa tahun kemudian sampailah kepada pernikahan antara dua insane tersebut, Nabi memberikan mas kawin sebesar dua puluh ekor unta. Selama dua belas tahun menikah, beliau telah mempunyai anak sebanyak enam orang, dua lelaki dan empat perempuan. Anak sulung beliau bernama Qasim, namun dua tahun kemudian meninggal, kemudian selang satu atau dua tahun berikutnya Siti Chadijah melahirkan keempat puterinya : Zainab, Ruqaijah, Ummu Kultsum dan Fathimah, yang bungsu bernama ‘Abdullah, tetapi tidak lama kemudian meninggal pula. Demi mencari soal ruhani dan nafsani yang bersimpang siur, beliau menjalankan tahannuts di Bukit Hira. Selama beberapa kali berulang selam bulan ramadhan, maka datanglah didalam tidurnya penglihatan-penglihatan yang membayangkan hakikat ujud kebenaran yang dicarinya. Peristiwa yang maha penting itu pun tibalah saatnya. Ketika beliau sedang tidur di dalam tahannutsnya, tiba-tiba seorang malaikat membawa sehelai tulisan menyuruh dia membacanya serta berkata : “Bacalah”!. Dengan terperanjat belaiu menjawab : “Saya tidak pandai membaca”. Beliau direngkuh-rengkuh malaikat itu sehingga merasa nafasnya seperti akan putus, kemudian dilepaskannya beliau lalu disuruhnya membaca sekali lagi, dan percakapan yang sama terulang kembali. Kemudian malaikat berkata seperti yang tertera dalam surat Al ‘Alaq 1-5. Kemudian barulah malaikat tersebut pergi dengan meninggalkan tulisan itu didalam hati nabi. Beliau terbangun, dengan penuh perasaan cemas ia bertanya-tanya kepada diri sendiri. Apakah gerangan yang dilihatnya dan dialaminya sebentar itu. Sesampainya dirumah, beliau merasa seluruh badannya gemetar dan demam, dan berkata kepada isterinya : “Selimuti aku, selimuti aku!”. Kemudian beliau bercerita kepada isterinya, dan singkat cerita dibawalah beliau kepada anak pamanya Waraqah bin Naufal, dan dia berkata, dia sesungguhnya akan menjadi nabi bagi umat kita ini, maka katakanlah kepadanya agar ia tetap dan tenang. Kemudian selepas dari sana, tertidurlah beliau, dan pada saat itu turunlah ayat 1-7 dari surat Al Mudatstsir. Setelah diceritakan oleh Siti Chadijah tentang pertemuan dengan Waraqah bin Naufal kepada beliau. Hari-hari berikutnya, beliau seperti biasa, bertahannuts kembali, dan menunggu datangnya malaikat yang waktu itu mendatanginya. Tetapi syukurlah, tiba-tiba Djibril pun datang kembali membawa surat Ad dluha. Kemudian lenyaplah rasa cemas dan takut beliau, dan menerima risalah untuk mengajak manusia membaktikan diri kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Yang Maha Besar. Kemudian berturut-turut beliau menerima dan melaksanakan perintah shalat, mengislamkan Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar, dan para sahabat yang lain. Kemudian berlanjutlah penyebaran dakwah agama islam di Djazirah Arab, mulai dari Mekkah, Madinah hingga Persia. Metode yang digunakan pun beragam, mulai dari mengajak seperti biasanya, hingga melalui peperangan. Peperangan-peperangan yang beliau lakukan cukup banyak selama masa dakwah islam, namun yang popular di kalangan umum adalah Perang Badr, Perang Uhud, Perang Chandaq, Perang Cheibar, Perang Muftah dan Zatu’ssalasil, Perang Hunain, serta Perang Tabuk. Perjalanan demi perjalanan beliau lalui bersama para sahabatnya. Ketika di Mekkah sudah tidak kondusif lagi untuk menyebarkan islam, beliau memutuskan untuk berhijrah ke Madinah bersama para sahabatnya. Sambutan di Madinah sangat menyenangkan hati beliau, di sana beliau mempersaudarakan antara kaum anshar dan kaum muhajirin yang sebelum ini sangat sering berselisih. Beliau juga berhasil membuat perjanjian yang sangat menentukan perjalanan umat islam di Mekkah, yaitu perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian yang menurut sebagian besar sahabat sangat merugikan umat islam, karena salah satu isinya adala apabila ada orang Mekkah yang melarikan diri ke Madinah, maka orang tersebut wajib dikembalikan, sementara apabila orang islam yang melarikan diri ke Mekkah, maka orang tersebut tidak dapat dikembalikan kepada Rasulullah (Madinah). Menjelang usia 60 tahun, suatu ketika beliau mengalami sakit demam yang cukup tinggi, hingga posisi beliau untuk mengimami shalat berjamaah di mesjid diwakilkan oleh sahabatnya, Abu Bakr. Beberapa hari setelah itu, beliau meninggal dunia didalam pangkuan isterinya Siti Aisyah. Mendengar berita wafatnya Nabi Muhammad, sahabat beliau, Umar bin Khattab tidak percaya, hingga beliau mengumumkan kepada orang banyak disekitar mesjid bahwa Nabi tidak wafat. Namun ketika itu Abu Bakr datang, dan menghampiri jenazah Nabi, dan beliau yakin bahwa Nabi memang sudah tiada. Bergegas kemudian Abu Bakr menuju ke tempat Umar yang sedang berbicara dan meminta Umar untuk berhenti berbicara dan mengizinkan Abu Bakr untuk berbicara. Beliau berkata dengan sebuah kalimat yang sangat menyentuh yaitu “Hai kamu sekalian! Barangsiapa yang menyembah Muhammad ketahuilah bahwa Muhammad telah mati, barangsiapa yang menyembah Allah hidup tiada mati. Lalu dibacanya ayat 144 dari surat Ali Imran yaitu : “Dan tidaklah Muhammad itu melainkan Rasul sebagai Rasul-Rasul yang telah terdahulu dari padanya, apakah jika ia mati atau terbunuh kamu akan berbalik; barangsiapa yang berbalik namun ia tidak akan merugikan Allah, bahwa Allah akan membalas jasa orang-orang yang bersyukur”. Setelah beliau wafat, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh Abu Bakr, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, dan Ali bin Abi Thallib.
Buku ini sangat sarat dengan hal-hal baru yang perlu kita ketahui,
diantaranya bahwa Khalid bib Walid dan Abu Sufyan, pada akhirnya memeluk
Islam, dan hal-hal menarik lainnya. Buku ini cocok bagi semua kalangan
yang menginginkan pengetahuan tentang Nabi Muhammad yang sebenarnya,
khusus bagi kaum muslim yang mengaku mencintai Nabi Muhammad.
|
|
Rabu, 02 April 2014
review buku : sejarah RASULULLAH
Sabtu, 22 Februari 2014
MENGAGUMI RASULULLAH S.A.W
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Assalamu Alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim...
Ketika Rasulullah SAW sedang bertawaf mengelilingi Ka’bah, beliau mendengar seorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir, “Ya, Karim! Ya, Karim!” Lalu, Nabi SAW menirunya, “Ya, Karim! Ya, Karim!” Orang itu lalu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, lalu berzikir lagi. Nabi Muhammad SAW pun kembali mengikutinya.
Seakan merasa seperti diolok-olok, orang itu menoleh ke belakang. Terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah dan tampan, yang belum pernah dikenalinya. Orang itu lalu berkata,
“Wahai, orang tampan, apakah engkau memang sengaja memperolok-olokku karena aku ini adalah orang Arab Badui? Kalaulah bukan karena ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”
Rasulullah SAW pun tersenyum, lalu bertanya,
“Tidakkah engkau mengenali nabimu, wahai, orang Badui?”
Orang itu menjawab, “Belum.”
Lalu, Rasulullah bertanya,
“Jadi, bagaimana engkau beriman kepadanya?”
Si Badui kembali berkata dengan mantap,
“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya walaupun saya belum pernah melihatnya. Saya membenarkan putusannya sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya.”
“Wahai, orang Badui, ketahuilah, aku ini nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat,” tutur Rasulullah SAW. Melihat Nabi SAW di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya. “Tuan ini Nabi Muhammad?” Nabi SAW menjawab, “Ya.”
Ia segera menunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah SAW. Melihat hal itu, Nabi SAW segera menarik tubuh orang Badui itu seraya berkata kepadanya, “Wahai, orang Badui, janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabur dan yang minta dihormati atau diagungkan. Akan tetapi, demi berita gembira bagi orang yang beriman dan demi berita ancaman bagi yang mengingkarinya.”
Ada dua makna penting dalam kisah di atas yang dapat dijadikan pelajaran. Pertama, terkait dengan kebanggaan tiada tara seorang hamba bertemu dengan Nabi SAW, pembawa kebenaran di dunia dan pemberi syafaat di akhirat kelak. Gerakan tunduk untuk mencium kaki Rasulullah merupakan perilaku spontan yang dilakukan orang biasa karena mendapatkan sesuatu yang tak terhingga. Hal ini wajar sebab tidak semua umat dapat bertemu dengan Nabi Muhammad SAW.
Kedua, yang lebih penting dari pertemuan orang Badui dengan Rasulullah SAW itu adalah kecintaan terhadap Nabi SAW bukan dengan cara memujanya, seperti mencium kaki dan lain sebagainya. Rasulullah tidak ingin memosisikan diri di hadapan umatnya laksana tuan dan budak.
Kecintaan dan kekaguman terhadap Rasulullah SAW hendaknya direfleksikan dari perilaku yang mencerminkan ketaatan terhadap ajarannya, bukan pada pribadinya secara fisik. Kita tak menemukan Rasulullah dalam bentuk fisik, tetapi ajaran kebenaran yang disampaikannya akan tetap “hidup” dan menjadi cahaya sepanjang zaman. Selama itu pula, umat akan merasakan kehadiran Rasulullah SAW sekaligus menghormatinya.
Kesetiaan dan kekaguman kepada Rasulullah saat ini akan memiliki derajat yang sama dengan orang yang bertemu secara langsung tatkala kita menjadi umat yang taat dan selalu menegakkan syiar Islam yang diajarkannya.
Wallahu'alam bishshawab
Wabilahi Taufik Wal Hidayah
Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
RENUNGAN KEHIDUPAN DARI HABIBANA.
telah Ditumbuhkan Nya
tetumbuhan dari permukaan
Bumi dengan berjuta jenis.., ada
yg menjadi Buah2an beragam
rasa sayuran, pohon yg rindang
dan bunga bunga yg Indah,
hewan hewan ternak, serangga,
burung burung, sebagai
makanan, bahan rumah,
penghibur, dan bermacam macam
manfaat bagi para keturunan
Adam as yg menghuni Bumi Nya,
dan tak satupun dari segalanya
itu hidup dan Lahir dimuka bumi
dari keinginan mereka sendiri,
sebagian dari mereka diberi Nya
izin tinggal sesaat, lalu berpindah
ke alam barzakh, adapula yg
diizinkan Nya tinggal di Bumi Nya
sehari, sebulan setahun, bahkan
seratus tahun..
masing masing tinggal di bumi
dan saling mendahului satu sama
lain untuk mencapai Barzakh, yg
ditinggal akan kehilangan dan
sedih pada yg meninggalkan,
demikianlah Bumi Mencatat
memori historinya setiap detik
sejak turunnya Adam as hingga
hari akhir kelak, perpisahan telah
terjadi sejak semua trilyunan sel
itu berkumpul di sulbi Adam as,
ada kelompok yg terdahulu,
meninggalkan sel2 saudaranya
untuk menghuni alam rahim Siti
Hawa, lalu milyaran sel dari
kelompok pertama itu menanti di
gerbang Alam Rahim Hawa,
ternyata hanya dua dari mereka
yg ditentukan menghuni alam
rahimnya, dan sisanya wafat
dalam Kewibawaan Takdir Nya,
menjadi pendahulu ke alam
barzakh...
lalu berangkatlah kelompok
kedua, milyaran sel itupun
meninggalkan sulbi Adam as
menuju Rahim Siti Hawa, maka
hanya dua sel saja yg diizinkan
menghuninya, maka perpisahan
pun terjadi, demikian dan
demikian setiap kejap perpisahan
terjadi di alam sulbi, di alam
rahim, di alam dunia, di alam
Barzakh dan di hari kiamat..
masing masing saling mendahului
satu sama lain. Tiadalah
kehidupan terkecuali pasti
menemui kematian, tiadalah
perkumpulan terkecuali menemui
perpisahan, dan kesemua yg ada
diatas tanah, akan kembali ke
tanah..,
sebesar apapun dan semewah
apapun gedung dan perumahan..,
tetap akan mengalami
kehancuran, tidak beda antara
kaya dan miskin, pejabat dan
budak, tua dan muda, lelaki dan
wanita, terhormat mulia atau
penjahat keji, kesemuanya sama
akan kembali kedalam bumi
sebagai bangkai yg menjadi
santapan hewan didasar bumi,
ini semua merupakan Lambang
Bahwa Dia Lah Yang Maha tunggal
menguasai Keabadian dan
kehidupan..,
tetumbuhan dari permukaan
Bumi dengan berjuta jenis.., ada
yg menjadi Buah2an beragam
rasa sayuran, pohon yg rindang
dan bunga bunga yg Indah,
hewan hewan ternak, serangga,
burung burung, sebagai
makanan, bahan rumah,
penghibur, dan bermacam macam
manfaat bagi para keturunan
Adam as yg menghuni Bumi Nya,
dan tak satupun dari segalanya
itu hidup dan Lahir dimuka bumi
dari keinginan mereka sendiri,
sebagian dari mereka diberi Nya
izin tinggal sesaat, lalu berpindah
ke alam barzakh, adapula yg
diizinkan Nya tinggal di Bumi Nya
sehari, sebulan setahun, bahkan
seratus tahun..
masing masing tinggal di bumi
dan saling mendahului satu sama
lain untuk mencapai Barzakh, yg
ditinggal akan kehilangan dan
sedih pada yg meninggalkan,
demikianlah Bumi Mencatat
memori historinya setiap detik
sejak turunnya Adam as hingga
hari akhir kelak, perpisahan telah
terjadi sejak semua trilyunan sel
itu berkumpul di sulbi Adam as,
ada kelompok yg terdahulu,
meninggalkan sel2 saudaranya
untuk menghuni alam rahim Siti
Hawa, lalu milyaran sel dari
kelompok pertama itu menanti di
gerbang Alam Rahim Hawa,
ternyata hanya dua dari mereka
yg ditentukan menghuni alam
rahimnya, dan sisanya wafat
dalam Kewibawaan Takdir Nya,
menjadi pendahulu ke alam
barzakh...
lalu berangkatlah kelompok
kedua, milyaran sel itupun
meninggalkan sulbi Adam as
menuju Rahim Siti Hawa, maka
hanya dua sel saja yg diizinkan
menghuninya, maka perpisahan
pun terjadi, demikian dan
demikian setiap kejap perpisahan
terjadi di alam sulbi, di alam
rahim, di alam dunia, di alam
Barzakh dan di hari kiamat..
masing masing saling mendahului
satu sama lain. Tiadalah
kehidupan terkecuali pasti
menemui kematian, tiadalah
perkumpulan terkecuali menemui
perpisahan, dan kesemua yg ada
diatas tanah, akan kembali ke
tanah..,
sebesar apapun dan semewah
apapun gedung dan perumahan..,
tetap akan mengalami
kehancuran, tidak beda antara
kaya dan miskin, pejabat dan
budak, tua dan muda, lelaki dan
wanita, terhormat mulia atau
penjahat keji, kesemuanya sama
akan kembali kedalam bumi
sebagai bangkai yg menjadi
santapan hewan didasar bumi,
ini semua merupakan Lambang
Bahwa Dia Lah Yang Maha tunggal
menguasai Keabadian dan
kehidupan..,
Jumat, 31 Januari 2014
yaa Hanana(sholawat NM)
dzoharoddiinul muayaad .. bidzhuhuurin nabi ahmad
ya hana na nabi Muhammad dzalikal fadhlu minallah
ya hana na
khusno bissab'il matsani wa hawa luthfal ma'ani
ma lahu fil kholqi tsani wa a'alaihi anzalallah
ya hana na
min makkatillamma dzohar liajlihin syaqqal qomar
waf takhorot aalu mudhor bihi ala kullil anam
ya hana na
athyabunnasi kholqon wa ajallunnasi khulqon
dzikruhu ghorbaw wa syarqon saa iruw walhamdu lillah
ya hana na
shollu a'la khoiril anami al musthofa badrittamami
shollu a'laihi wasallimu yasyafa'lana yaumazzihami
ya hana na nabi Muhammad dzalikal fadhlu minallah
ya hana na
khusno bissab'il matsani wa hawa luthfal ma'ani
ma lahu fil kholqi tsani wa a'alaihi anzalallah
ya hana na
min makkatillamma dzohar liajlihin syaqqal qomar
waf takhorot aalu mudhor bihi ala kullil anam
ya hana na
athyabunnasi kholqon wa ajallunnasi khulqon
dzikruhu ghorbaw wa syarqon saa iruw walhamdu lillah
ya hana na
shollu a'la khoiril anami al musthofa badrittamami
shollu a'laihi wasallimu yasyafa'lana yaumazzihami
Kamis, 30 Januari 2014
semoga bermanfaat :)
Ratib Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas
Ratib Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas
Al-Fatihatu ilaa hadhrati al-habib Sayyidina Muhammadin S.A.W. wa aalihi wa sahbihi wa man waalaahu. Wa ilaa ruuhi sayyidina al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas, shohibi ratib, wa syeich Ali bin Abdillaahi al-Baaras. wa usuulihim wa furuu’ihim annallaaha jataghasyaahum bir’rahmati wal maghfirati al-fatiha. A’uudhu billaahi minasy’yaitaani rajiim. Bismillaahirahmaanirahiim. Alhamdulillaahi rabbil aalamiin. Arrahmaanirahiim maalikijawmid’diin. Ijaakana’buduu wa ijaa kanastaiin.Ihdinas’siraatal mustaqiim. Siraathal’ladhiina anámtu alaihim Ghairil maghdhuu alaihim walaa dhaaliin. Aamiin. Lau’anzalnaa haadhal qur’aana alaa Jabalin lara’aitahu ghaasyian mutasad’dian min ghasy’yatil’laahi wa tilkal amthaalu nadhribuhaa linnaasi la’allahum jatafakkaruun. Huwallaahul ladhii laa ilaaha illaa huwa aalimul ghai’bi wa shahaadati huwa rahmaanirahiim. Huwallaahul ladhii laa ilaaha illaa huwa al-malikul Qud’duusu salaamul mu’minul muhaiminul aziizul Jabbaarul mutakabbiru subhaanallaahi amma jusyrikuun. Huwallaahul ghaalikul baari’ul musawwiru lahul asmaa’ul husnaa jusabbihu lahu maa fii samaawaati wal ardhi wa huwal aziizul haqiim.
A’uudhu billaahis samii’il aliimi minasy’syaitaani rajiim(3x).
A’uudhu bikalimaatillaahi taamaati min syarri maa ghalaqa(3x).
Bismillaahil ladhii laa jadhurru ma’asmihii syai’un fil ardhi walaa fis’samaa’i wahuwassamii’ul aliim(3x).
Bismillaahirahmaanirahiim, walaa hawlaa walaa quwwata illaabillaahil alijjil adhiim(10x).
Bismillaahirahmaanirahiim(3x).
Bismillaahi tahassanaa billaahi, bismillaahi tawakkalnaa billlaahi(3x).
Bismillaahi aamannaa billaahi wa man ju’min billaahi laa ghawfun alaihi(3x).
Subhaanallaahi azzallaahu subhaanallaahi jal’lallaahu(3x).
Subhaanalaahi wa bihamdihi subhaanallaahil adhiim(3x).
Subhaanallaahi wal handulillaahi walaa ilaaha illallaahu wallaahu akbar(4x).
Yaa, lathiifan bighalqihi yaa, Aliiman bighalqihi yaa, ghabiiran bighalqihi al-tufbinaa yaa, lathiifu yaa, aliimu yaa, ghabiir(3x).
Yaa, lathiifan lam jazal al-tufbinaa fiimaa nazal innaka lathiifu lam tazal al-tufbinaa wal muslimiin(3x).
Laa ilaaha illallaah(40x).
Muhammadur’rasuulullaah(1x).
Hasbunallaahu wa ni’mal wakiil(7x).
Allahumma salli alaa Muhammadin allahumma salli alaihi wa sallim(11x).
Astghfirullaah(11x).
Taa’ibuuna illallaah(3x).
Yaa, allaahu bihaa yaa, allaahu yaa, kariimu yaa, allaahu bihusnil ghaatimah(3x).
Ghufranaka rabbanaa wa ilajkal masiir laa jukalliful’laaha nafsan illaa wus’ahaa lahaa maa kasabat wa alaihaa maa aktasabat rabbanaa laa tu’agidhnaa in’nasiinaa aw’agta’naa rabbanaa walaa tahmil alainaa isran kamaa hamaltahu alal’ladhiina min qablinaa rabbanaa walaa tuhammilnaa maalaa qatalanaa bihi wa’fu annaa wagh firlanaa warhamnaa anta mawlaanaa fansurnaa alal qawmil kaafiriin. Al-Fatihatu ilaa Hadhrati sayyidinaa wa Habibinaa wa Syafi’inaa rasuulillaahi Muhammad ibn Abdillaahi sallallaahu alaihi wa aalihi wa ashaabihi wa azwaajihi wa dhurri’jaatihi bi’annallaaha ju’lii darajaatihim fil jannati wa janfa’unaa bi asraarihim wa anwaarihim wa uluumihim fid’diini wa dunjaa wal aaghirati wa jadz’alunaa min hizbihim wa jarzuqnaa mahabbatuhum wa jatawafaanaa alaa millatihim wa jah’syurnaa fii zumratihim. Al-Fatiha athaa bakumullaah.(Surat al-fatiha).
rotib al haddad
~TEKS ROTIB AL-HADDAD~
1. Audzu billahiminasy syaitonnirrojim.
Bismillahirrahmannirrahiim
Alhamdu lillahi robbil’alamiin. Arrohmaanir rohiim. Maalikiyaumiddiin. Iyyaka na’budu wa iyyaaka nastai’iin. Ihdinash shiroothol mustaqim. Shiroothol ladziina an’amta’alaihim, ghoiril maghdluubi’alaihim wa ladl-dlooliin. Amin.
2. Allaahu laa ilaaha illa huwal qoyyum, laa ta’khudzuhu sinatuwwalaa naum, lahuu ma fissamawaati wa ma fil ardl, man dzal ladzii yasyfa’u indahuu illa bi-idznih, ya’lamu maa baina aidhihiim wa maa kholfahum walaa yuhiithuna bisyaiim min ilmihii illa bima syaa’, wasi’akursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa yauuduhuu hifdhuhumaa wa huwal alliyul adhiim.
3. Aamanarrosuulu bima unzila ilahi mirrobbihi wal mu’minuun, kullun aamana billahi wamalaaikatihi wa kutubihi warrusulih lanufarriqu baina ahadim min rusulih, wa qoolu sami’naa wattho’na ghufroonaka robbana wa ilaikal mashiir, laa yukallifullohu nafsan illa wus’ahaa, lahaa maa kasabat wa alaihaa maktasabat, robbanaa laa tuaakhidzna innasiina au akhtho’naa, robbanaa walaa tahmil alainaa ishron kamaa himaltahuu alalladziina min qoblinaa, robbanaa walaa tuhammilna maalaathooqota lanaa bih, wa’fuma’anna wagfirlanaa warhamnaa, anntanmaulaanaa fanshurnaaalal qoumil kaafiriin. Amin .
4. Laa ilaaha illallohu wahdahu laa syarikalah, lahulmulku walahulhamdu yuhyi wayumitu wa hua’alaa kulli syai-in qodliir. (3X)
5. Subhanaallohi walhamdulillaah walaa ilaaha illaloohu wallohu akbar. (3X)
6. Subhanaallooh wabihamdih, subhaanallohil ‘adzim. (3X)
7. Robbanaghfirlanaa watub ‘alainaa innaka antat tawwaburrohiim. (3X)
8. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad, allohumma sholii’alaihi wa sallim. (3X)
9. A’uudzu bikalimaatillaahit taammaati min syarri maa kholaq. (3X)
10. Bismillahilladzi laa yadlurru ma’asmihii syai-un fil ardil walla fissamaa-i wahuassamii’ul ‘aliim. (3X)
11. Rodliinaa billaahi robban wabil islami dinan wabi Muhammadin nabiyyan. (3X)
12. Bissmillah walhamdulillah wal khoir wasy-syarru bimasyii-atillaah. (3X)
13. Aamanna billahi wal yaumil aakhiri tubnaa ilaallohhi baathinan wadhoohiro. (3X)
14. Yaa robbanaa wa’fu ‘annaa wamhulladzi kaana minnaa. (3X)
15. Yaa dzal jalaali wal ikhroom amitna ‘alaa diinil islami. (7X)
16. Yaa qowiyyu yaa matiin ikfi syarrodh-dholimiin. (3X)
17. Ashlahalloohu umuurol muslimina shorrofalloohu syarrol mu’dziin. (3X)
18. Yaa ‘aliyyu yaa kabiir yaa ‘aliimu yaa qodiir ya samii’u ya bashiir yaa lathifu yaa khobir. (3X)
19. Yaa faarijal hamm yaa kaasyifal ghomm yaa man li’abdihi yaghfiru wayarham. (3X)
20. Astaghfirullooh robbal barooyaa, Astaghfirullooh minal khotooyaa. (4X)
21. Laa ilaa ha illallohu laa ilaa ha illaalloh. (25X)
22. Muhammadurosuulullohu ‘alaihi wasallama wasyarro fa wakarroma wamajjada wa adhoma warodliyallohu ta’aa laa an’ash khaa ba rosuulillaahi ajma’iina wats tsaa bi’iina lahum bi ikhsaa nin ilaa yaumiddiini wa’alainaa ma’ahum birohmatika yaa arkhamarroo khimin.
23. Bismillāh i’r Rahmān i’r Rahīm
Qul Huwallāhu Ahad
Allāh u’s-Samad
lam yalid wa lam yūlad
wa lam yakun Lahū kufuwan ahad (3X)
24. Bismillāh i’r Rahmān i’r Rahīm
Qul a‘udhu bi-Rabbi’l falaq
min sharri mā khalaq
wa min sharri ghāsiqin idhā waqab
wa min sharri’n
naffāthāti fi’l ‘uqad
wa min sharri hāsidin idhā hasad (1X)
25. Bismillāh i’r Rahmān i’r Rahīm
Qul a‘ūdhu bi-Rabb-i’n-nās
Malik-i’n-nās
Ilāh-i’n-nās
min sharri’l waswāsi’l
khannās
alladhī yuwaswisu fī sudūr-i’n-nās
min al-jinnati wa’n-nās (1X)
26. Al-faatihah ila ruuhi habibina wasyafi’inaa rasuulillahi Muhammadin bin abdillaah shal-laahu alaihi wassalam wa aalihi wa ashhabihi wa dzurriyaatihi annallaha yuklii darajaatihim filjannati wa yan fa’unaa biasrarihim wa anwaarihim wa ‘uluumihim fiddiini waddunyaa wal aakhirati wayaj’alunaa minhizbihim wa yar zuqunaa mahabbatahum wa yatawaffana ‘alaa millatihim wa yahsyar naa fi zumratihim, Al-faatihah.
27. Al-faatihah ila ruuhi sayidinal Muhajir illallah Ahmad bin Isa tsumma ilaruuhi sayyidinal faqiihil muqaddami Muhammad bin Alii baa Alawii wa usulihim wafuruu’ihim wajami’il sadatinna Aali aabi ‘alawii fil jannah, wayunawwiru dharaaihahum wayu’idu ‘alainaa min barakaatihim waanwarihim fiddunya wal aakhirah, Al-faatihah.
28. Al-faatihah ilaa arwahi jamii’i saadaa tinaash shuufiyyati innallohu yuqoddisu arwa khahum fiil jannati, wayunawwiru dlo roo ikhahum, wayu’iidu ‘alainaa mim barokaatihim wa asroo rihim wa an waa rihim fiidunyaa wal aakhiroti, wayulkhiqunaa bihim fii khoirin wa’aa fiyatin, Al-faatihah.
29. Al-faatihah ilaa ruuhi shoohibirrotibi alustadzi Sayyidinas syarif Alquthbilghaus Abdulloh bin Alawi Alhadah baa’alawi, anallaha yuqoddisu ruuhahu filjannah, wayunawwiru dharaaihahu, wayu’idu ‘alaina min barokatihi waasroorihi, waan waarihi fiddun yaa wal aakhiroh, Al-faatihah.
30. Al-faatihah ila ruuhi sayyid Alawi bin Ibrahim Alhadad tsuma illa ruuhi Syarifah ‘Aluyah binti Muhammad bin Ja’far Alhadad. Tsumma ilaa arwaahi walidina wawalidikum, waamwatanaa waamwaatikum waamwaatil muslimiina ajma’in. Annallaha yaghfirulahum wayushlihu umuural Muslimin, wayakfihiima syarral mu’dziim wa yataqobbalu minna waminkum, wayarzuqunaa waiyyakum husnal khaatimah ‘indal maut fii khairin waluthfin wa’aafiyatin, wailaa hadlratin nabiyi Muhammad shallaahu ‘alaihi wasalama, Al-faatihah.
~DO'A~
31. Bismillahirrahmanirrahiim.
alhamdu lillahi robbil’alamiin, hamdan yuwaa fi ni’amahu wayukaafii mazzidah. Allahumma shalli’alaa sayyidina Muhammadin wa ahli baitihi wa shohbihi wasallim. Allahumma inna nasaluka bihaqqil faatihatilmu ‘adhdhomati wassab’ilmatsaani antaftaha lana bikulli khoirin, waantaj’alana mina ahlil khoiri, wa antu ‘aamilana yaa maulaana mu’aamalataka liahlil khoiri, waantahfadhona fiiadyaanina wa anfusana wa aulaadina wa ash haa binaa wa ahbaabina min kulli mihmatin wabuk sin wadhoirin, innaka waliyyu kulli khoirin, wamutafadldlilun bikulli khoirin, wa mu’thin lukulli khoirin. Yaa arhamarrohimin.
32. Allohumma innaanas-aluka ridlooka wal jannah
wana’uudzubika min sakhothika wannaar. (3X)
A. Yaa’aalimassirri minnaa laa tahtikissitro ‘annaa wa’aafinaa wa’fu ‘annaa wakun lanaa haitsu kunaa. (3X)
B. Yaallooh bihhaa Yaallooh bihhaa Yaallooh bihusnil khootimah. (3X)
C. Yaa lathiifan lam yazal, ulthuf binaa fiimaa nazal, innak lathiifun lam tazal, ulthuf binaa wal muslimin. (3X)
D. Yaa lathiifan bikholqih, yaa aliiman bikholqih, yaa khobiiron bikholqih, ulthuf binaa yaa lathiif yaa ‘aliim yaa khobiir. (3X)
F. Yaa amaanal khoo-ifiin aaminna mimma nakhof
Yaa amaanal khoo-ifiin sallimnaa mimma nakhof
Yaa amaanal khoo-ifiin najinaa mimma nakhof. (3X)
Bismillahirrahmanirrahiim.
alfaatihatu bil qobuuli wa ilaa hadhrotinnabiyyarrosuuli Muhammadin shollallohu ‘alaihi wassallama, Al-faatihah.
>>> Manfaat2 membaca Ratib Al hadad : Memelihara iman, Menjaga batin kita dari kemunafikan dan perbuatan dholim, Memelihara kita, keluarga kita,harta kita serta lingkungan kita ; di lindungi dari sihir, tenung, guna-guna, magic, kejahatan orang hasud. memperoleh rezeki yang melimpah dan halal; Mendapat ketenangan hidup, Mendapat Ampunan dari dosa-dosa,Mendapat kemudahan dalam menyelesaikan persoalan dunia dan ahirat dan hajat2 yang lainnya.
shalawat
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”Al-Quran Surat Al-Ahzab 56. (سورة الأحزاب ).
--------------------------
"Aku tidak pernah mengharapkan sesuatu dari kalian kecuali apa yang Allah perintahkan kepada kalian untuk selalu mencintai keluargaku. Hati-hatilah! Jangan sampai kalian menemuiku di telaga surga nanti dalam keadaan membenci keluargaku, menzalimi atau bahkan membunuh mereka!"
--------------------------
"Aku tidak pernah mengharapkan sesuatu dari kalian kecuali apa yang Allah perintahkan kepada kalian untuk selalu mencintai keluargaku. Hati-hatilah! Jangan sampai kalian menemuiku di telaga surga nanti dalam keadaan membenci keluargaku, menzalimi atau bahkan membunuh mereka!"
hijab
Hijab (bahasa Arab: حجاب ħijāb) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti penghalang. Pada beberapa negara berbahasa Arab serta negara-negara Barat, kata "hijab" lebih sering merujuk kepada kerudung yang digunakan oleh wanita muslim . Namun dalam keilmuan Islam, hijab lebih tepat merujuk kepada tatacara berpakaian yang pantas sesuai dengan tuntunan agama.
Dalam Al Qur'an pada dua surat Al-Ahzab :59 dan An-Nur :31 disebutkan kewajiban wanita muslim menggunakan hijab:
| “ | Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Ahzab :59) |
Rabu, 29 Januari 2014
nama saya ALFINA JUNIS SUFIANI :)
sekolahhh di SMK NEGERI 24 jakarta
jurusan rekayasa perangkat lunakkk :)
hobby saya : badmintonn
cita cita : angkatan darat tapi gatau kenaapa nyasarnya malah ke IT ;D
alamat rumahh : kp.baruuu
alamatblog : alfinajunis.blogspot.com
berharap bangett bisa masuk angkatan sebenernyaa , doain ajah ya biar kesampeaann
sayaa orangnya malu maluan kalo belom kenal sama oranggg ,
tp kalo udah kenall tuhh asiikk bangettt , itu sih kata temen temen guaaa begituu :)
pelajaran yang paling digak mengerti itu cuma 1 c++
akibat gurunya juga sihhh gapernahhh jelass kalo neranginnya -_-
pokoknya kalo udah pelajaran itu badmoodnya naekk 100 derajat ahhahaha :D
udahh yaaa capeeee nih ngetiknya :D
sekolahhh di SMK NEGERI 24 jakarta
jurusan rekayasa perangkat lunakkk :)
hobby saya : badmintonn
cita cita : angkatan darat tapi gatau kenaapa nyasarnya malah ke IT ;D
alamat rumahh : kp.baruuu
alamatblog : alfinajunis.blogspot.com
berharap bangett bisa masuk angkatan sebenernyaa , doain ajah ya biar kesampeaann
sayaa orangnya malu maluan kalo belom kenal sama oranggg ,
tp kalo udah kenall tuhh asiikk bangettt , itu sih kata temen temen guaaa begituu :)
pelajaran yang paling digak mengerti itu cuma 1 c++
akibat gurunya juga sihhh gapernahhh jelass kalo neranginnya -_-
pokoknya kalo udah pelajaran itu badmoodnya naekk 100 derajat ahhahaha :D
udahh yaaa capeeee nih ngetiknya :D
renungan
Barang yang masih ingin hidup di dunia maka berarti dia masih ingin diuji, karena kehidupan tak lepas dari ujian...
Barang siapa yg ingin hidup selalu tentram dan senang tanpa ada ujian sama sekali, maka sungguh ia telah mengharapkan kemustahilan..., bahkan pada hakekatnya dia sedang mengharapkan kematian...
Ternyata setelah kematian pun di alam kubur dan di padang masyhar masih ada ujian berat yang menanti...
Tidak ada peristirahatan yang hakiki kecuali di surga...
Sungguh kita semua adalah musafir...dan kita tdk akan berhenti dari safar kita hingga kita sampai pada tujuan terakhir...
Surga atau neraka...
aurat
islam begitu menjaga aurat, baik laki laki maupun perempuan, bahkan terhadap jenazah sekalipun islam masih menjaga auratnya, dalam memandikan jenazah, aurat jenazah harus tertutup.
subhanallah islam begitu indah, islam sangat menjaga makhluknya, islam sangat memuliakan orang orangnya.
tutuplah auratmu, walau di awali dengan TERPAKSA, WITING TRESNO JALARAN SOKO KULINO.
jadilah prbadi yang di cintai allah denga terjaganya aurat kita, karena allah sendiri memerintahkan untuk senantiasa menutup aurat terutama perempuan auratnya lebih banyak dari laki laki.Secara keseluruhannya empat mazhab utama dalam fiqh Islam iaitu mazhab Hanafi, Maliki, Syafie dan Hambali menetapkan bahawa aurat bagi lelaki adalah antara pusat dan lutut manakala bagi wanita ialah keseluruhan tubuhnya kecuali muka dan tapak tangan berdasarkan nas yang kuat daripada al-Quran dan al-sunnah.
begitu di jaganya aurat seorang muslim hukum islam menjelaskan sesama laki laki pun tidak boleh melihat aurat lak laki yang lain, begitu juga dengan wanita tidak boleh melihat aurat wanita lainnya.
Dari Abu said al-Khudri r.a katanya, Rasulullah s.a.w bersabda: “Lelaki tidak boleh melihat aurat lelaki dan perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan. Lelaki tidak boleh berselimut sesama lelaki dalam satu selimut tanpa pakaian dan perempuan tidak boleh berselimut sesama perermpuan dalam satu selimut tanpa pakaian.”
(Bukhari)
subhanallah islam begitu indah, islam sangat menjaga makhluknya, islam sangat memuliakan orang orangnya.
tutuplah auratmu, walau di awali dengan TERPAKSA, WITING TRESNO JALARAN SOKO KULINO.
jadilah prbadi yang di cintai allah denga terjaganya aurat kita, karena allah sendiri memerintahkan untuk senantiasa menutup aurat terutama perempuan auratnya lebih banyak dari laki laki.Secara keseluruhannya empat mazhab utama dalam fiqh Islam iaitu mazhab Hanafi, Maliki, Syafie dan Hambali menetapkan bahawa aurat bagi lelaki adalah antara pusat dan lutut manakala bagi wanita ialah keseluruhan tubuhnya kecuali muka dan tapak tangan berdasarkan nas yang kuat daripada al-Quran dan al-sunnah.
begitu di jaganya aurat seorang muslim hukum islam menjelaskan sesama laki laki pun tidak boleh melihat aurat lak laki yang lain, begitu juga dengan wanita tidak boleh melihat aurat wanita lainnya.
Dari Abu said al-Khudri r.a katanya, Rasulullah s.a.w bersabda: “Lelaki tidak boleh melihat aurat lelaki dan perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan. Lelaki tidak boleh berselimut sesama lelaki dalam satu selimut tanpa pakaian dan perempuan tidak boleh berselimut sesama perermpuan dalam satu selimut tanpa pakaian.”
(Bukhari)
Langganan:
Postingan (Atom)

